Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin

Cerpen Azhari.

TELAH diceritakan dalam kisah yang lebih panjang, bahwa sebuah sidang sedang menunggu dengan hati berdebar apakah Sultan Nurruddin memutuskan hendak membeli sebuah batu permata bernama Mutiara Tuhan atau tidak.

Sidang itu terdiri dari para tukang nujum yang sedang berupaya mendorong Sultan untuk memiliki permata itu, sebab dalam nubuat yang mereka terima, hanya dengan batu mulia itulah ratusan tahun kemudian Lamuri dapat diselamatkan dari pendudukan Jenderal Mata Sebelah yang muncul dari seberang lautan sebagaimana halnya nasib Negeri Khurasan yang pernah ditakbirkan Al-Hadis.

Berdiri di samping para ahli nujum adalah seorang jauhari yang sangat berpengalaman. Jika tukang nujum mampu menghapal ratusan hadis, maka sang jauhari dikaruniai ingatan untuk mengetahui riwayat ribuan jenis permata, pun firasatnya mampu menentukan permata mana yang mengandung kutukan
dan mana yang membawa keberuntungan. Limpahan kekayaan membuat sang jauhari
dapat meniru apa saja yang menjadi kegemaran Sultan Nurruddin, juga dalam hal
mengumpulkan batu mulia.

Bahkan tak jarang ia bersaing dengan Sultan untuk
memburu permata langka yang sama, dan kenyataan ini kadangkala membuat Sultan
Nurruddin sakit hati kepadanya. Tapi kalau dia disingkirkan, kepada siapakah
lagi Sultan harus memastikan bahwa sebuah manikam terbebas dari kutukan?

Kali ini, pengetahuan sang jauhari kembali membuat majelis
kagum sekaligus terguncang. Dia paparkan riwayat Mutiara Tuhan yang sangat
panjang, yang mampu menyeret dua nabi Allah yaitu Khaidir dan Sulaiman pada
sepertiga cerita. Entah karena ingin memiliki Mutiara Tuhan untuk dirinya
sendiri atau karena nyawa Sultan Nurruddin lebih berharga, dia menyimpulkan di
ujung ceritanya bahwa Sultan Pelindung Kaum Beriman dan Penumpas Kaum Murtadin
ini tidak pantas menyerahkan takdirnya pada batu yang penuh kutukan ini.

Tak jauh dari Sultan Nurruddin berdiri seorang perempuan
dengan air muka yang tak tersangka-sangka karena cadar telah menutupi hampir
seluruh wajahnya. Dialah Ainul Mardiyah, perempuan pembawa Mutiara Tuhan.

Di belakang Ainul Mardiyah berbaris sembilan laki-laki yang
menyaru sebagai pengiringnya, namun sesungguhnya mereka adalah sisa terakhir
anggota Persaudaraan Rahasia Kura-kura Berjanggut, musuh utama Sultan Nurruddin
yang telah diselamatkan oleh Si Ujud. Dengan kutukan batu permata itu,
sebagaimana pesan terakhir Si Buduk (satu dari sembilan pemimpin puncak
Kura-kura Berjanggut yang telah dibinasakan oleh Sultan) mereka berencana
membunuh Sultan melalui utusannya Si Ujud.

Di dalam barisan itu pula terdapat enam lelaki lainnya,
utusan sebuah puak pemburu harta yang mendiami muara tersembunyi di Kepulauan
Sulu. Mereka tidak ada urusan dengan segala macam rencana pembunuhan Sultan,
mereka hanya menghitung seberapa banyak keuntungan yang bakal dibawa pulang
andai Sultan lebih memilih saran para tukang nujum daripada sang jauhari.

Berdiri pada saf yang sama dengan para tukang nujum dan sang
jauhari adalah Si Ujud. Dia termasyhur sebagai syahbandar Lamuri namun ia lebih
banyak bekerja sebagai kepala mata-mata rahasia Sultan Nurruddin. Pamornya
dalam menumpas persaudaraan Kura-kura Berjanggut membuat Sultan Nurruddin tak
ingin menggantinya dengan orang lain sebagaimana yang lazim ia lakukan selama
ini, tentu setelah terlebih dahulu membunuh semua kepala mata-mata sebelumnya.
Sesungguhnya Si Ujud sendiri sudah lama memendam dendam-kesumat untuk membunuh
Sultan.

Ia hendak membunuh Sultan dengan kutukan Mutiara Tuhan,
sementara kita lihat dia berdiri dekat sekali dengan junjungannya itu.

Mutiara Tuhan tidak akan datang dengan kakinya sendiri ke
Lamuri dan bukan pula dengan perantara sejenis kegaiban, melainkan berkat
pertemuan yang langka seorang perempuan dengan Tuhannya pada suatu hari dan
peran sejenis bumbu masak kegemaran awak kapal penangkap perompak pada hari
yang lain. Saya kutip lagi cerita itu, cerita yang pernah dituturkan Si Buduk
kepada Si Ujud, yang kemudian diceritakan kembali oleh Si Ujud kepada
persaudaraan rahasia Kura-kura Berjanggut agar komplotan itu membawa Mutiara
Tuhan ke Lamuri.

Pertemuan yang Langka

BERABAD-ABAD silam, bagai ingin menandaskan kembali di
hadapan umat manusia bahwa Tuhan dapat melakukan apa saja, Dia yang satu ini
pergi ke Barat pada suatu pagi. Kepergian-Nya yang penuh makna itu membuka
pintu takdir yang berbeda-beda bagi tiga golongan umat-Nya.

Golongan pertama adalah sebagian besar umat-Nya yang hanya
menunggu kepulangan-Nya, oleh sebab Dia memang berjanji untuk kembali pada
suatu hari nanti.

Andai muara, cadas, dan beting karang di teluk itu Dia beri
kemampuan bertutur, maka mereka adalah saksi yang paling terpercaya dan tua
untuk mengungkapkan bagaimana sehari setelah kepergian-Nya ratusan orang
berlomba-lomba mengayuh perahu mengikuti alur perahu-Nya, oleh sebab telah Dia
janjikan keabadian kepada siapa saja yang dapat bertemu dengan-Nya dalam
perjalanan-Nya menuju Barat. Inilah golongan kedua, mereka yang sampai sekarang
dikenal sebagai para pemburu keabadian dari Timur.

Golongan ketiga adalah sebuah wangsa terpandang yang pernah
menyelenggarakan sayembara menangkap burung ajaib dengan hadiah seorang
perempuan rupawan. Sayembara itu sendiri mengawali kemunculan-Nya untuk pertama
kali dari tempat-Nya yang gaib setelah Dia saksikan tak ada satu pun manusia
yang mampu menangkap si burung. Dia muncul sebagai seorang yang buruk rupa
serta lemah bagai tidak mampu menolong diri sendiri. Barangkali penyaruan ini
mengandung maksud agar umat manusia tidak terguncang oleh wujud asli-Nya. Tapi
ketika Dia berhasil menangkap si burung, wangsa yang memalukan ini sama sekali
tidak takjub oleh kemampuan-Nya, melainkan terpengaruh oleh wujud lahiriah-Nya,
sehingga mereka merasa adil untuk menukar taruhan si perempuan rupawan dengan
seekor babi hutan.

Kepergian-Nya ke Barat barangkali tak ada hubungannya dengan
sikap tak senonoh wangsa ini, namun kemudian mereka sungguh menyesali perbuatan
mereka kepada-Nya dalam sayembara itu, dan mereka percaya bahwa kemuliaan
mereka akan kembali tegak apabila ada salah seorang dari mereka yang dapat
membujuk Dia untuk kembali pulang ke Timur. Itu sebabnya, sambil beradu
keberuntungan dengan para pemburu keabadian, wangsa ini mengutus sejumlah
perempuan mereka ke arah matahari tenggelam untuk membawa Dia pulang.

Oleh rangkaian takdir seperti itulah aku berjumpa dengan
Ainul Mardiyah pada suatu hari di Tumasik pada waktu pertemuan tahunan sembilan
pemimpin puncak Persaudaraan Kura-kura Berjanggut.

PERSAUDARAAN rahasia seperti Kura-kura Berjanggut yang
berniat mengakhiri hidup seorang Sultan penguasa lautan tidak akan mungkin
berumur panjang apabila tidak berlindung pada aturan. Menyelenggarakan
pertemuan tahunan di sebuah bandar yang kotor, menghindari untuk pergi bersama
dan pulang dalam waktu berbeda adalah sebagian dari aturan itu. Kupikir
kepatuhan pada aturan telah menjaga aku sedemikian rupa, sehingga tidak
kusadari ada seseorang yang terus mengawasiku sejak turun di pintu gerbang
bandar.

Pada malam hari sebelum pertemuan, seseorang di antara kami
menyelia keadaan di sekeliling penginapan dan dia melihat seorang perempuan
duduk di kursi ruang tunggu. Sambil mengawasi orang-orang yang naik-turun
tangga, seketika dia berprasangka bahwa perempuan itu pastilah mata-mata Sultan
Nurruddin. Kami semua setuju dengannya. Kami menunggu sampai kokok ayam pertama
terdengar. Lalu seseorang lain di antara kami turun ke bawah dan dia melihat
hal yang sama. Malam itu juga kami putuskan untuk membatalkan pertemuan sebelum
akhirnya kami keluar satu demi satu.

Aku keluar pada giliran kelima, aku ingat hari hampir terang
tanah, dan dia tepat menghadangku di pintu penginapan.

“Tuan Tuhan kami!”

Bukan panggilan lirihnya yang membuatku terpukau, tapi
semata-mata kejelitaannyalah.

“Tuan Tuhan kami!”

Tak mendapat tanggapanku sekali lagi dia ulang kata-kata itu
dengan lebih keras. Aku lantas berpikir, bahwa Sultan Nurruddin tak kehabisan
akal untuk menjebak musuh-musuhnya bahkan kalau perlu memanggil mereka sebagai
tuhan. Aku telah terbiasa menghadapi kecerdikan seperti yang kuhadapi sekarang,
jadi aku tidak akan menghindar.

“Ikutlah ke mana langkah Tuhan jika demikian!” Aku
berpikir kalau dia percaya bahwa aku adalah Tuhannya tentu dia mau mengikuti ke
mana saja aku membawanya, dengan demikian aku dapat mengulur waktu agar delapan
pemimpin yang lain dapat mencapai tujuan mereka masing-masing. Kalaupun terjadi
sesuatu, itu hanya akan menimpaku seorang.

Perempuan ini pasti gila. Tapi seorang perempuan gila pun
terlalu menarik perhatian untuk berjalan di samping seseorang yang mengenakan
jubah Arabia. Maka sebelum aku mampu menjelaskan bahwa aku bukan Tuhannya,
kuminta dia untuk bertukar busana dengan setelan pengembara Arabia. Cadar
coklat yang menutup wajahnya itulah yang membuat Si Ujud tidak dapat melihat
rupanya yang jelita.

Lalu perlahan-lahan mulai kujelaskan bahwa aku adalah
seorang pedagang dan bukan Tuhannya. Tapi dia tidak percaya. Dia tetap berkata,
“Tuan Tuhan kami.” Aku memang tidak mempunyai bakat untuk meyakinkan
orang gila, tapi aku percaya orang gila pada umumnya cepat bosan terhadap
sesuatu hal. Jadi aku berharap barangkali esok atau lusa dia akan pergi dari
sisiku ketika telah dia lihat Tuhan pada wajah orang lain.

Semuanya di luar dugaanku.

“Tuhan, mari pulang ke Numfur.” Itulah yang
terucap dari mulutnya setelah lima hari bersamanya aku hanya mendengar,
“Tuhan tuan kami.” Aku tak menjawab ajakannya melainkan bertanya,
“Kau orang Numfur?”

“Bukan, Tuhan.”

“Jadi kau dari mana?”

“Labuan.”

“Pernah tinggal di Numfur?”

“Tidak, Tuhan.”

“Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan Tuhan?
Kau boleh memanggilku Kadi.”

“Bisa, Tuhan.” Lantas dia mendekap mulutnya dan
mungkin tidak akan dia lepaskan kalau aku tidak menarik tangannya dari sana..

Aku tak mungkin terus bertanya padanya. Perempuan ini hanya
mau menjawab apa yang aku tanyakan, barangkali dia berpikir aku mengetahui
segalanya tentang dirinya. Maka aku minta dia untuk menceritakan siapa dirinya.

Dia telah enam tahun mencari Tuhannya yang pergi pada suatu
masa ketika orang belum mengenal penanggalan. Umurnya sekarang dua puluh satu.
Setiap tahun dia selalu merangkak kian ke barat, singgah dari satu bandar ke
bandar lain sambil bekerja sebagai apa saja untuk mempertahankan entah hidupnya
entah kutukannya. Hal inilah yang membuat dia mengetahui banyak hal sekaligus
mengalami banyak sekali kejadian. Dia selalu mencari orang-orang dengan kudis
di tubuh karena itulah satu-satunya tanda yang ditinggalkan Tuhannya. Dari
sekian banyak orang dengan penyakit kudis yang ditemuinya hanya akulah yang
menurut dia bisa dipastikan sebagai Tuhannya.

Kukatakan padanya bahwa aku harus pergi sedikit lagi ke arah
barat. Sebagai Tuhan ada banyak tugas yang harus kuselesaikan, baru setelah itu
aku akan pulang ke Numfur bersamanya. Apa yang Tuhan katakan tentu harus
dipatuhinya. Begitulah dia menerima semua ketentuan yang aku gariskan. Untuk
menjaga harapannya kuberikan dia beberapa tugas yang awalnya tak lebih dari hal
remeh-temeh, seperti mengawasi orang-orang yang bakal berkunjung ke Lamuri dan
memasok seluruh keterangan yang menyangkut dengan Sultan Nurruddin. Sebagai
Tuhan yang baik kuberikan dia nama Ainul Mardiyah dan aku berjanji untuk datang
menjumpainya setahun sekali.

Persaudaraan Kura-kura Berjanggut sungguh beruntung
mempunyai seorang Ainul Mardiyah di Tumasik. Tentu aku ingin mendapat lebih..
Pada tahun ketiga kuminta dia menghimpun pengikut. Pada tahun keempat, yaitu di
saat kau menumpahkan bubuk hitam itu, dia sudah mampu membangun sebuah majelis
yang kuat di sana.

Wahai Si Ujud, waktu kau turun di Tumasik, sebelum berganti
kapal dan melanjutkan perjalanan ke Lamuri, barangkali karena tergesa-gesa kau
menabrak Ainul Mardiyah, perempuan bercadar yang tak kau kenal, dan kancut
buntalan di tanganmu terlepas. Berhamburlah ratusan bubuk hitam dari wadahnya.
Pada perempuan yang kausenggol dan membantumu meraup kembali hablur itu kau
katakan, “Inilah bumbu hitam.”

Dari apa yang kautumpahkan itu dia lalu menyusuri jejakmu
dan menuliskan penyelidikannya.

Bumbu Hitam Penangkap Perompak

PEROMPAK Kastilia pernah terkecoh karena tidak dapat
membedakan bumbu hitam sebagai penyedap masakan dengan nama sebuah armada
penangkap perompak. Bumbu hitam sebagai bumbu masak terbuat dari campuran
kelapa dan cabe yang dibakar, dan ramuan ini telah lama menjadi teman setia
orang Sulu di kesunyian lautan terutama karena keawetannya. Setiap mereka pergi
melaut bumbu itu pasti diajak serta, baik untuk dikudap begitu saja maupun
untuk penyedap masakan. Terilhami oleh kelezatan bumbu ini, Panglima Sama
Banglani si penangkap perompak Kastilia dan datu pelindung orang Sulu, memberi
nama armadanya Bumbu Hitam, armada yang sangat ditakuti sekalian perompak di
lautan itu, terutama perompak Kastilia.

Tapi sejak perompak Kastilia berhasil menggantung Panglima
Sama Banglani di bandar Zamboanga keadaan sudah banyak berubah. Jika dulu
perompak ini menjadi sasaran utama perburuan Bumbu Hitam, maka sekarang adalah
kebalikannya. Orang Kastilia bersumpah untuk memburu sisa-sisa armada Bumbu
Hitam sampai ke ujung dunia. Orang Sulu, pemilik bumbu hitam sejati, begitu
mengetahui kematian sang pelindung yang mereka cintai dan mendengar sumpah
orang Kastilia itu, serentak menumpahkan bumbu hitam ke seluruh penjuru lautan.
Inilah cara mereka untuk menyelamatkan sisa armada Bumbu Hitam dengan cara
mengacaukan jalur pengejaran perompak Kastilia, sehingga masa itu pada sebuah
bandar atau pangkalan sering ditemukan ceceran bumbu hitam tanpa sebab yang
jelas.

Tapi tahun-tahun pengacauan jalur pengejaran itu sudah lama
berlalu. Bumbu hitam kembali ke tempat asalnya, yakni panci dan kuali, bersama
jahe, ikan atau ayam, menjadi sop hitam yang lezat. Armada penangkap perompak
itu sendiri sudah lama tidak terdengar kabar beritanya. Maka aku sungguh
penasaran ketika ada seseorang yang membawa-bawa bumbu itu di dalam
buntalannya. Sehingga aku merasa tergugah untuk mengusut dari mana datangnya
dan ke mana tujuan si orang dagang.

Apa yang kudapatkan membuat aku berbesar hati. Jika Kadi
beranggapan bahwa salah satu tujuan melawat ke Barat adalah untuk mengakhiri
hidup Sultan Nurruddin, maka orang yang kuselidiki ini juga mempunyai maksud
yang sama. Dia adalah Si Ujud, nakhoda salah satu eskader Bumbu Hitam. Dia
bukan orang Sulu, tapi berasal dari Lamuri. Tidak perlu heran apabila awak
kapal Bumbu Hitam berasal dari negeri-negeri yang jauh. Untuk menangkap
perompak Kastilia, Panglima Sama Banglani membutuhkan banyak sekali ahli dan
para petempur untuk mengisi ratusan eskadernya, belum lagi tukang dayung dan
pembersih geladak. Dia tidak mendapatkan seluruh tenaga itu dengan cuma-cuma.
Sementara dia tidak seberuntung datu-datu penangkap perompak di masa silam,
yang selalu dilindungi Mutiara Tuhan.

Dia mewarisi batu manikam itu tapi dia tidak mempunyai
seseorang sebagai si penjaga batu. Sudah menjadi ketentuan bahwa Mutiara Tuhan
harus diwariskan kepada seorang anak pilihan, sementara ibu yang melahirkan si
anak adalah orang yang bertugas menjaga batu itu, yang hanya boleh dikeluarkan
apabila si anak membutuhkannya. Hanya di tangan seorang perempuan terpilih
itulah sang batu dapat ditundukkan. Masalahnya, Panglima Sama Banglani tidak
mempunyai keturunan sehingga dia tidak dapat memilih salah satu dari istrinya
sebagai si penjaga batu. Maka dia putuskan untuk menguburkan batu itu di dalam
liang lahat ibunya, penjaga terakhir Mutiara Tuhan.

Dia lalu membuka sebuah cerita lama, yang disimpan rapat
oleh datu-datu dan perempuan pilihan, cerita tentang Mutiara Tuhan, sebuah batu
yang membawa keberuntungan bagi siapa saja yang dapat memilikinya bahkan walau
dia hanya melihat pancaran cahayanya saja. Seperti kekuatan yang ditimbulkan
oleh hembusan angin ekor duyung, cerita itu menarik orang-orang dari seluruh
penjuru lautan untuk bergabung dengan armada Bumbu Hitam, terutama puak pemburu
harta, sekalipun pertama-tama mereka harus berhadapan dengan perompak Kastilia,
yang kata empunya cerita juga memburu batu manikam yang sama.

Si Ujud adalah salah seorang yang terhasut cerita itu dan
dia ingin menggunakan Mutiara Tuhan untuk membunuh Sultan Nurruddin.

Dengan memperhatikan kebiasaan Panglima Sama Banglani
menziarahi kuburan ibunya apabila dia mau atau usai menyergap perompak
Kastilia, Si Ujud telah lama memikirkan sebuah kemungkinan bahwa sang Panglima
menyembunyikan batu itu di dalam kuburan ibunya. Hal ini dia sampaikan kepada
sang puak pemburu harta, pihak yang dia hasut kelak untuk menjual si batu permata
kepada Sultan Nurruddin sebagai penawar tinggi.

Namun puak itu sendiri, ya Kadi, setelah kuselidiki, tidak
pernah tahu di mana kuburan sang ibu Panglima Sama Banglani. Sementara Si Ujud,
sejak armada penangkap perompak Bumbu Hitam dikalahkan perompak Kastilia,
hilang entah di mana, hingga pada akhirnya dia menabrakku di bandar Tumasik
ini. Bumbu hitam yang masih dia bawa-bawa itu menunjukkan betapa jauhnya dia
bersembunyi selama ini, sehingga tidak dia ketahui bahwa masa pengacauan jalur
pengejaran perompak Kastilia dengan tipuan bumbu hitam sudah lama berlalu.

Azhari tinggal
di Banda Aceh. Kumpulan cerita pendeknya adalah Perempuan Pala (2005).

—-
cerpen ini dimuat di Koran Tempo, 12 Oktober 2008

Post a Comment

Your email is never published nor shared. You're allowed to say what you want...